BAB I
PENGANTAR SISTEM KENDALI
A. SEJARAH SISTEM KENDALI
Sejarah manusia tidak
jauh dari upaya mereka dalam mengendalikan dan mengatur lingkungan dimana
mereka berada atau tinggal, dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka secara nyaman
dana aman. Pada awalnya mereka menggunkana peralatan dari batu sebagai alat
memasak dan berburu, yang lambat laun berkembang dari batu ke logam.
Memanfaatkan kecerdasan dan pengalaman yang diperoleh, berkembanglah
teknologi-teknologi yang dapat mempermudah kehidupan manusia, yang dewasa ini
dikenal dengan istilah mesin.
Seiring berkembangnya
teknologi terutama pada bidang komputer, tek-nik kendali juga mengalai
perkembangan yang sangat pesat pada berbagai bidang. Perkembangan teknik
kendali pada dewasa ini lebih terfokus pada kendali digital yang mudah dalam
penggunaanya yang sering disebut mik-roprosesor atau mikrokontroller. Dengan
besarnya perkembangan ini me-nyebabkan penggunaan Teknik kendali digital di
berbagai teknik kendali, baik dalam skala yang sangat besar, maupun skala
kecil.
Pada skema sistem kendali yang dapat memuat suatu komputer digital dalam
sebuah lup kendali untuk memproses sebuah sinyal biasa disebut suatu kendali
digital langsung (direct control digital), atau sering disingkat menjadi
kendali digital.
Kendali digital
merupakan sistem yang terpadu yang memiliki banyak kelebihan dibandingkan
dengan kendali analog diantaranya :
- Pada teknologi kendali digital menawarkan data yang diproses seca-ra langsung, memungkinkan pengenalan layanan-layanan lansung, dan perhitungan-perhitungan kendali kompleks yang dapat dilakukan de-ngan mudah
-
Pada penulisan program kendali dapat diubah dengan mudah dan da-pat memperlihatkan kesalahan sesuai kebutuhan
- Pada sistem pengendali digital memiliki keunggulan dibandingkan de-ngan pengendali analog dalam hal mengatasi nois ,panas, dan derau-derau internal
Selain memiliki
kelebihan,kendali digital juga memiliki beberapa kele-mahan dalam penggunaannya
diantaranya :
- Proses cupllik dan kuantisasi cenderung menimbulkan galat(error) yang akan mengurangi performa pada sebuah sistem kendali digital
- Perancangan untuk memperbaiki degradasi performa tersebut lebih rumit jika dibandingkan dengan sistem analog untuk skala yang sama
B. Masalah Kendali
Umumnya, sebuah pengendali atau kompensator diperlukan untuk me-napis
sinyal galat agar supaya kriteria-kriteria atau spesi kasi kendali ter-tentu
dapat dipenuhi. Kriteria-kriteria ini meliputi, tapi tidak dibatasi pada :
- Penolaka gangguan
- Galat keadaan tunak
- Karakteristik tanggapan fana
- Sensiti tas terhadap perubahan parameter dikendalikan
Penyelesain masalah pada kendali umumnya
meliputi beberapa hal yaitu:
- Memilih-milih sensor untuk mengukur keluaran kendalian
- Memilih penggerak untuk menjalankan kendalian
- Mengembangkan persamaan (model-model) kendalian, penggerak dan sensor
- Merancang pengendali
berdasarkan pada mmodel-model yang dikem-bangkan dan kriteria kendalI
Karena ketidaktelitian model-model, pengujian dari sistem kendali sik biasanya tidak memuaskan. Insinyur kendali harus melakukan pengulangan (iterasi) prosedur perancangan ini, dengan menggunakan semua cara yang ada, untuk memperbaiki sistem. Naluri umum,yang dikembangkan pada saat melakukan percobaan dengan sistem sik, memegang peranan penting dalam proses-proses perancangan.
C. CONTOH CONTOH SISTEM TEKNIK KENDALI
- Sistem Pengiriman Obat Lup Tertutup
Untuk merancang
sebuah lup tertutup sistem pengiriman obat, sensor yang digunakan untuk
mengukur kadar obat atau nutrisi diatur dalam da-rah. Pengukuran ini diubah
menjadi bentuk digital dan diumpankan ke komputer kendali yang mendorong pompa
yang menyuntikkan obat ke da-lam darah pasien
Gambar 1.2: Sistem
pengendali digital pengiriman obat
2. Kendali Komputer
Mesin Pesawat Turbojet
Untuk mencapai
kinerja tinggi yang diperlukan untuk pesawat terkini, mesin turbojet
menggunakan strategi kendali komputer canggih. Diagram blok sederhana untuk
kendali komputer turbojet ditunjukkan pada Gambar 1.3 . Kendali membutuhkan
umpan balik dari keadaan mesin (kecepatan, suhu, dan tekanan), pengukuran
keadaan pesawat terbang (kecepatan dan arah), dan perintah pilot.
Gambar 1.3: Sistem kendali mesin turbojet pada
Pesawat terbang pemburu
3. Kendali Manipulator
Robot
Manipulator robot
mampu melakukan tugas berulang dengan kecepatan dan akurasi yang jauh melebihi
operator/manusia. Manipulator robot secara lu-as digunakan dalam proses
manufaktur, seperti pengelasan dan pengecatan. Untuk melakukan tugas secara
akurat dan andal, posisi tangan manipulator dan kecepatan dikendalikan secara
digital. Setiap gerakan atau derajat ke-bebasan dan manipulator diposisikan
dengan menggunakan sistem kendali posisi terpisah. Semua gerakan yang
dikoordinasikan oleh sebuah komputer pengawas untuk mencapai kecepatan dan
posisi yang diinginkan. Algoritma kendali di-download dari komputer pengawas ke
komputer kendali yang bi-asanya berupa mikroprosesor khusus yang dikenal
sebagai chips pemroses sinyal digital.
Gambar 1.4: Sistem
kendali manipulator robot
D. ISTILAH DALAM SISTEM KENDALI
Sistem kendali
atau pengendalian khususnya pada pengendalian otomatis dan pengendalian digital
memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan ilmu dan teknologi.
Sistem kendali dapat dikatakan sebagai hubungan antara komponen yang membentuk
sebuah kon gurasi sistem, yang akan menghasilkan tanggapan sistem yang
diharapkan. Jadi harus ada yang dikendalikan, yang merupakan suatu sistem sis,
yang biasa disebut dengan kendalian (plant).
- SistemSistem merupakan kumpulan komponen-komponen yang saling berhubung-an dan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sistem tidak dibatasi hanya untuk sistem sik saja. Konsep sistem dapat digunakan pa-da gejala yang abstrak dan dinamis seperti yang dijumpai dalam ekonomi.
Proses adalah nama lain untuk sistem. Kamus
Merriam-Webster mende ni-sikan proses sebagai operasi atau perkembangan alamiah
yang berlangsung secara kontinyu yang ditandai oleh suatu deretan perubahan
kecil yang beru-rutan dengan cara yang relatif tetap dan menuju ke suatu hasil
atau keadaan akhir tertentu.Pada umumnya, setiap operasi yang dikontrol disebut
proses.
3. Plant
Plant adalah
nama lain untuk sistem. Plant adalah seperangkat peralatan mungkin hanya
terdiri dari beberapa bagian mesin yang bekerja bersama-sama, yang digunakan
untuk melakukan suatu operasi tertentu. Pada sistem pengendalian, setiap obyek
sik yang dikontrol disebut plant, msalnya pa-brik, reaktor nuklir, mobil,
sepeda motor, pesawat terbang, pesawat tempur, kapal laut, kapal selam, mesin
cuci, mesin pendingin (sistem AC, kulkas, fre-ezer), penukar kalor (heat
exchanger), bejana tekan (pressure vessel), robot dan sebagainya.
4. Aktuator
Piranti
elektromekanik yang berfungsi untuk menghasilkan daya gerakan. Perangkat bisa
dibuat dari system motor listrik, sistem pneumatik dan hi-drolik. Untuk
meningkatkan tenaga mekanik aktuator atau torsi gerakan maka bisa dipasang
sistem gear box atau sprochet chain.
5 .Variabel
Parameter merupakan
variabel yang tertentu dan konstan berkaitan dengan batasan sik dari sistem.
Sebagai contoh, pada sistem Conti-nuous Stirred-Tank Reactor (CSTR) yang
merupakan parameter ada-lah panas spesi k (C).
6. Sistem Pengendalian Umpan balik
Sistem
pengendalian umpanbalik adalah sistem yang cenderung memperta-hankan suatu
hubungan yang telah ditentukan antara keluaran sistem dan masukan acuan
(setpoint) dengan membandingkan keduanya dan menggu-nakan perbedaannya sebagai
sinyal kontrol. Pada sistem pengendalian ump-an balik, keluaran sistem
berpengaruh terhadap aksi pengendalian. Sistem pengendalian umpan balik tidak
terbatas di bidang rekayasa, tetapi dapat juga ditemukan diberbagai macam
bidang bukan rekayasa. Contohnya : tu-buh manusia. Tubuh manusia adalah sistem
pengendalian umpanbalik yang sangat maju. Baik suhu tubuh maupun tekanan darah
dijaga tetap konstan dengan alat umpan balik faal tubuh.
7. Sistem Pengendalian Sekuensial
Sistem
pengendalian sekuensial adalah sistem yang melakukan beberapa operasi secara
otomatis step by step yang bekerja sesuai dengan aturan (sequence) yang telah
ditentukan. Kebanyakan pengendalian sekuensial ha-nya melaksanakan perintah
yang mempunyai dua keadaan (state) secara berurutan; misalnya : start/stop,
up/down, tutup/buka, sinyal on/o dan lain-lain. Pengendalian
sekuensial dapat dibagi menjadi tiga kategori sebagai ber-ikut :
1. Sistem melakukan urutan
berikutnya jika kondisi yang ditentukan se-belumnya terpenuhi (conditional
control)
2. Sistem melaksanakan urutan
berikutnya jika telah mencapai waktu yang telah ditentukan (time schedule
control).
3. Sistem di mana waktu pelaksanaan atau interval
waktu tidak pen-ting, hanya urutan operasi yang telah ditetapkan yang
dipentingkan (executive control).
8. Sistem Pengendalian Proses
Sistem pengendalian proses merupakan sistem pengendalian otomatis
dima-na
keluarannya adalah suatu variabel seperti temperatur, tekanan, aliran,
level cairan atau pH. Pengendalian proses secara luas digunakan di industri.
9. Sistem pengendalian loop terbuka
Sistem
pengendalian loop terbuka merupakan suatu sistem pengendalian yang keluarannya
tidak mempunyai pengaruh terhadap aksi kontrol. Pada sistem pengendalian loop
terbuka tidak terdapat jaringan umpan balik. De-ngan kata lain, pada sistem
pengendalian loop terbuka keluarannya tidak dapat digunakan sebagai
perbandingan umpan balik dengan masukan acuan (setpoint).
10. Sistem Pengendalian Loop Tertutup
Sistem pengendalian loop tertutup merupakan
suatu sistem pengendalian dimana sinyal keluaran mempunyai pengaruh langsung
terhadap aksi kon-trol. Pada sistem pengendalian loop tertutup terdapat jaringan umpanba-lik
karenanya sistem pengendalian loop tertutup seringkali disebut sebagai sistem
pengendalian umpanbalik. Praktisnya, istilah pengendalian loop ter-tutup dan
pengendalian umpanbalik dapat saling dipertukarkan pengguna-annya.
11. Gangguan (disturbance)
Suatu sinyal yang mempunyai k ecenderungan untuk
memberikan efek yang melawan terhadap keluaran sistem pengendalian(variabel
terkendali). Be-saran ini juga lazim disebut load.
12. Sensing element
Bagian paling
ujung suatu sistem pengukuran ( measuring system) atau sering disebut sensor. Sensor
bertugas mendeteksi gerakan atau fenomena lingkungan yang diperlukan sistem
kontroler. Sistem dapat dibuat dari sis-tem yang paling sederhana seperti
sensor on/o menggunakan limit switch, sistem analog, sistem bus paralel, sistem
bus serial serta si stem mata kame-ra. Contoh sensor lainnya yaitu thermocouple
untuk pengukur temperatur, accelerometer untuk pengukur getaran, dan pressure
gauge untuk pengukur tekanan.
13. Transduser
14. Error
Selisih antara
set point dikurangi variabel terkendali. Nilainya bisa positif atau negatif,
bergantung nilai set point dan variabel terkendali. Makin kecil error terhitung,
maka makin kecil pula sinyal kendali kontroler terhadap plant hingga akhirnya
mencapai kondisi tenang ( steady state)
15. Final Controller Element
Bagian yang
berfungsi untuk mengubah measurement variable dengan me-manipulasi besarnya
manipulated variable atas dasar perintah kontroler.
16. Sistem Pengendalian Manual
Sistem pengendalian dimana
faktor manusia sangat dominan dalam aksi pengendalian yang dilakukan pada
sistem tersebut. Peran manusia sangat dominan dalam
menjalankan perintah, sehingga hasil pengendalian akan di-pengaruhi pelakunya.
Pada sistem kendali manual ini juga termasuk dalam kategori sistem kendali
jerat tertutup. Tangan berfungsi untuk mengatur permukaan uida dalam tangki.
Permukaan uida dalam tangki bertindak sebagai masukan, sedangkan penglihatan
bertindak sebagai sensor. Opera-tor berperan membandingkan tinggi sesungguhnya
saat itu dengan tinggi permukaan uida yang dikehendaki, dan kemudian bertindak
untuk mem-buka atau menutup katup sebagai aktuator guna mempertahankan keadaan
permukaan yang diinginkan.
17. Sistem Pengendalian Otomatis
Sistem
pengendalian dimana faktor manusia tidak dominan dalam aksi pe-ngendalian yang
dilakukan pada sistem tersebut. Peran manusia digantikan oleh sistem kontroler
yang telah diprogram secara otomatis sesuai fungsi-nya, sehingga bisa
memerankan seperti yang dilakukan manusia. Di dunia industri modern banyak
sekali sistem ken dali yang memanfaatkan kontrol otomatis, apalagi untuk
industri yang bergerak pada bidang yang proses nya membahayakan keselamatan
jiwa manusia.
18. Kontrol Unit
Bagian unit kontroler yang menghitung besarnya
koreksi yang diperlukan.
19. Final Kontrol Elemen
20. Sistem Pengendalian Kontinyu
BAB II
MODEL MODEL SISTEM KENDALI
A. Pemodelan
Sistem Kendali
Sistem Fisik
Pada persamaan ini,v(t) adalah tegangan dalam volt, i(t) adalah aruss
dalam besaran ampere, dan R adalah resistensi dalam besaran Ohm. Jika
resistansi dihubungkaan dengan tegangan yang diketahui, tegangan akan menjadi
sistem dan arus adalah keluaran sistem atau tanggapan.
Pemodelan Sistem




Istilah model
matematik diartikan sebagai hubungan matematik yang meng-hubungkan keluaran
sistem ke masukannya. mungkin salah satu model yang paling sederhana dari
sistem sik adalah hukum Ohm (lebih tepat dikatak-an sebagai model Ohm) yang
diterapkan pada fenomena resistansi elektrik. Model ini di rumuskan seperti
berikut:
v(t) = i(t)R
|
(2.1)
|
Di dalam kamu
IEEE [1] model matematik dari sebuah sistem dide nisikan sebagai kumpulan
persamaan yang digunakan untuk mewakili sistem sik. Haruslah dimengerti bahwa
tidak ada model matematik yang pasti dari su-atu sistem sik. Kita dapat
meningkatkan ketepatan suatu model dengan cara meningkatkan kerumitan
persamaan-persamaan, tetapi tidak pernah dapat mencapai
kepastian. Kita umumnya berusaha keras untuk mengem-bangkan sebuah model supaya
dapat menyelesaikan persoalan tanpa mem-buat model yang terlalu rumit. Telah
dinyatakan bahwa pembahasan model sistem-sistem sik melibatkan antara 80% - 90%
persen dari usaha yang di-perlukan di dalam analisis dan perancangan sistem
kendali.
B. RANGKAIN LISTRIK
Untuk sumber tegangan ideal, tegangan pada terminal-terminal dari sumber
sesuai dengan yang ditetapkan, tidak bergantung pada rangkai-an yang terhubung
melalui terminal -terminal ini. Arus,i(t), yang meng-alir di sumber tegangan
ditentukan oleh rangkaian yang terhubung melalui terminal-terminal ini. Untuk
sumber arus ideal, arus yang mengalur melalui sumber arus sesuai dengan yang
ditetapkan, tidak bergantung pada rang-kaian yang terhubung melalui
terminal-terminal ini. Tegangan,v(t), yang timbul pada terminal dari sumber
arus ditentukan oleh rangkaian yang ter-hubung melalui terminalterrninal ini.
Pada
sistem-sistem kendali sik biasanya terdapat satu elemen rangka-ian tambahan
yaitu penguat operasional (sering kali disebut op amp) [3]. Biasanya op amp
digunakan pada rangkaian-rangkaian sensor untuk meng-uatkan sinyal-sinyal lemah
dan juga digunakan pada rangkaian-rangkaian kompensasi. Lambang yang digunakan
pada diagram rangkaian untuk op amp diperlihatkan pada Gambarbab2d(a). Masukan
bertanda negatif dise-but masukan inverting, dan yang bertanda positif disebut
masukan nonin-verting. Catu daya untuk tegangan positif diberi lambang V + dan untuk tegangan negatif
adalah V . Op amp terlihat seperti [pada Gambar 2.3(a), tanpa hubungan dengan
catu daya. Pada gambar ini vd adalah tegangan masukan dan v0 adalah tegangan keluaran.
Penguat dirancang dan diba-ngun sedemikian rupa sehingga impedansi masukan
menjadi sangat tinggi, yang mengakibatkan arus di i dan i+ menjadi kecil sekali. Di
samping itu, keuntungan penguat menjadi sangat besar (105 atau lebih besar). yang
menghasilkan tegangan masukan yang diizinkan yang sangat kecil jika pe-nguat
dioperasikan di dalam kisaran linearnya.
C. Diagram Blok
dan Gra k Aliran Sinyal
Gra k aliran sinyal juga digunakan untuk menunjukkan hubungan fungsi
alih secara gra s. Gra k aliran sinyal yang mewakili Persamaan 2.9
diper-lihatkan pada Gambar 2.9(b). Setiap sinyal dtunjukkan oleh sebuah node di
dalam gra k aliran sinyal, seperti yang diperlihatkan oleh E(s) dan C(s) di
dalam gambar. Setiap fungsi alih diwakili oleh sebuah cabang, yang di dalam
gambar diperlihatkan oleh garis dan anak panah, dengan fungsi alih yang
dituliskan di dekat anak panah. Secara de nisi, sinyal yang keluar dari cabang
sebanding dengan fungsi alih cabang dikalikan dengan sinyal yang masuk ke dalam
cabang.
Diagram Blok dan Gra k Aliran Sinyal
|
37
|
tanda yang ditempatkan di mata panah komponen.
Perlu diperhatikan bah-wa simpangan penjumlah dapat memiliki sejumlah masukan,
tetapi hanya diperlihatkan satu keluaran.
Untuk gra k aliran sinyal, fungsi simpangan penjumlah dilaksanakan oleh
sebuah node. Simpangan penjumlah diwakili oleh cabang-cabang yang memasuki
node, seperti yang terlihat pada Gambar 2.10(b). Secara de nisi, sinyal pada
sebuah node sebanding dengan jumlah sinyal-sinyal dari cabang-cabang yang
dihubungkan ke dalam node. Diagram blok dan gra k aliran sinyal diperlihatkan
oleh Contoh .
Contoh :
Pada Persamaan-persamaan di bawah ini
E(s) = R(s) H(s)C(s)
C(s) = G(s)E(s)
Dispesi kasikan bahwa dalam persamaan di atas,
R(s) adalah sinyal ma-sukan, C(s) adalah sinyal keluaran, EB) adalah sinyal
internal dan C(s) dan H(s) adalah fungsi alih.
D. Rumus Bati mason
Bagian ini
menyajikan prosedur yang memungkinkan untuk mendapatkan fungsi alih, dengan
cara pemeriksaan dari diagram blok atau gratik aliran si-nyal. Prosedur ini
disebut sebagai Rumus Bati Mason [5]. Tetapi, walaupun prosedur ini relatif
sederhana, penggunaannya harus sangat berhati-hati, karena baik istilah
pembilang dan penyebut dari fungsi alih dengan mudah akan terabaikan. Lebih
jauh lagi, tidak terdapat metode yang akan meng-indikasi adanya istilah yang
terabaikan. Namun rumus bati Mason dapat diaplikasikan untuk sistem sederhana
dengan baik bila telah berpengalaman menggunakannya.
Aturan yang persis sama diaplikasikan ke dalam diagram blok. Pertama, de
nisi-de nisi diberikan untuk dua jenis node yang dapat timbul di sebuah gra k
aliran. Node-node berupa node sumber (masukan) dan node sink (Keluaran).
De nisi-de nisi tambahan yang diperlukan untuk
penerapan rumus batI Mason adalah sebagai berikut:
Lintasan
Sebuah lintasan
adalah hubungan cabang-cabang yang terus-menerus dari satu node ke lainnya
dengan anak panah yang berarah sama; artinya, seluruh aliran sinyal berada pada
arah yang sama dari node pertama ke node kedua.
Simpal
Simpal adalah
lintasan tertutup (dengan semua anak panah berarah sama) yang tidak ada node
yang bertemu lebih dari satu kali. Perlu dicatat bahwa node sumber tidak dapat
menjadi bagian dari lup, kare-na setiap node di dalam simpai harus memiliki
sedikitnya satu cabang yang masuk ke node dan sedikitnya satu cabang yang
keluar.
Lintasan Maju
Lintasan maju
adalah sebuah lintasan yang menghubungkan sebuah node sumber ke node sink, yang
tidak terdapat node yang bertemu lebih dari satu kali.
Bati Lintasan
Bati lintasan
adalah perkalian fungsi alih dari semua cabang yang membentuk lintasan. Bati
Simpal Bati simpai adalah perkalian fungsi alih dari semua cabang yang
membentuk simpai.
Tak Bersentuhan
Dua lup tidak
bersentuhan jika kedua simpai ini tidak memiliki node yang umum. Simpal dan
lintasan tidak bersentuhan jika keduanya tidak memiliki node yang umum.
E. SISTEM ELEKTROMAKNETIK
Generator Arus
Searah
Diasumsikan bahwa generator dc dijalankan oleh
sumber energi yang di-sebut penggerak utama, yang berkapasitas cukup sehingga
beban elektrik pada generator tidak mempengaruhi kecepatan generator.
Selanjutnya di-asumsikan bahwa generator berputar pada kecepatan konstan.
Motor Servo
motor servo adalah jenis motor DC dengan sistem umpan balik tertutup yang terdiri dari sebuah motor DC, serangkaian gear, rangkaian kontrol, dan juga potensiometer. Jadi motor servo sebenarnya tak berdiri sendiri, melainkan didukung oleh komponen-komponen lain yang berada dalam satu paket
Sedangkan fungsi potensiometer dalam motor servo adalah untuk menentukan batas sudut dari putaran servo. Sementara sudut sumbu motor servo dapat diatur berdasarkan lebar pulsa yang dikirim melalui kaki sinyal dari kabel servo itu sendiri. Oleh karena itu motor servo dapat berputer searah dan berlawanan arah jarum jam
BAB III
FUNGSI ALIH
Fungsi Ahli
Penjelasan atau
istilah gain digunakan untuk menunjukkan relasi antara ma-sukan dan keluaran
sebuah sistem, di mana gain G = keluaran=masukan. Bila masukan dan keluaran
sistem yang dinyatakan dalam bentuk fungsi s, maka fungsi alih atau transfer
function G(s) didelinisikan sebagai [keluaran Y(s)/masukan X(s)] ketika semua
kondisi mula sebelum masukan dikenakan adalah sama dengan nol.
F ungsi alih = G(s) =
|
Y (s)
|
(3.2)
|
|
X(s)
|
|||
Suatu fungsi alih dapat direpresentasikan
sebagai sebuah blok diagram (lihat gambar 3.1) dengan X(s) sebagai masukan, Y (s)
sebagai keluaran, dan fungsi alih G(s) sebagai operator di dalam kotak yang
mengonversikan masukan menjadi keluaran. Blok akan merepresentasikan perkalian
masuk-an. Jadi, dengan menggunakan transformasi Laplace masukan dan keluaran,
maka fungsi alih dapat digunakan sebagai sebuah faktor pengali sederhana.
Fungsi alih
beberapa elemen sistem
Dengan
memperhatikan relasi antara masukan yang diberikan ke sistem ser-ta keluaran
yang dihasilkannya, maka dapat diperoleh fungsi alih sistem dan dideskripsikan
suatu sistem kontrol sebagai rangkaian blok yang saling terinterkoneksi, di
mana masing-masing blok memiliki karakteristik masuk-an keluaran yang dide
nisikan oleh suatu fungsi alih. Berikut ini disajikan beberapa fungsi alih dari
elemen-elemen sistem yang kerap dijumpai:
1. Gir
Untuk relasi antara
kecepatan masukan dan kecepatan keluaran sebu-ah gir dengan rasio N:
f ungsi alih = N
|
(3.3)
|
2. Penguat
Untuk relasi antara tegangan
keluaran dan tegangan masukan dengan G sebagai konstanta gain:
f ungsi alih = G
|
(3.4)
|
3. Potensiometer
Untuk
potensiometer sebagai suatu rangkaian pembagi tegangan bia-sa, relasi antara
tegangan keluaran dan tegangan masukan sama de-ngan perbandingan antara nilai
resistansi di mana keluaran diambil dan resistansi total dimana tegangan catu
dikenakan, sehingga rasio-nya merupakan suatu konstanta dan oleh karena itu
fungsi alihnya adalah suatu konstanta K:
f ungsi alih = K
|
(3.5)
|
4. M otor d.c. (searah) kendali jangkar
Untuk relasi antara
kecepatan poros penggerak dan tegangan masukan belitan jangkar:
1
|
|
f ungsi alih = sL + R
|
(3.6)
|
di mana L
merepresentasikan induktansi belitan jangkar, sedangkan R adalah nilai
resistansinya.
Fungsi alih ini diturunkan dengan
mempertimbangkan rangkaian jang-kar sebagai induktansi yang terhubung seri
dengan resistansi. Kare-nanya:
v = L
|
di
|
+ Ri
|
(3.7)
|
||
dt
|
|||||
sehingga untuk kondisi tanpa nilai mula:
V (S) : sLI(s) + RI(s)
|
(3.8)
|
dan karena torka
keluaran berbanding lurus dengan arus belitan jang-kar, maka didapat fungsi
alih dalam bentuk 1=(sL + R).
5. Aktuator hidrolik kendali katup
Keluaran berupa pergerakan silinder hidrolik
direlasikan terhadap ma-sukan berupa pergerakan poros katup oleh suatu fungsi
alih yang me-miliki bentuk sebagai berikut:
f ungsi alih :
|
K1
|
(3.9)
|
s(K2s + K3)
|
di mana K1, K2, dan K3 adalah konstanta.6. Sistem pemanas
Relasi antara temperatur
yang dihasilkan dengan masukan yang dibe-rikan ke elemen pemanas biasanya
memiliki bentuk sebagai berikut:
f ungsi alih :
|
K1
|
(3.10)
|
sC + 1=R
|
di mana C adalah suatu konstanta yang
merepresentasikan kapasitas termal sistem dan R adalah konstanta yang
merepresentasikan resis-tansi termal.
7. Tachogenerator
Relasi antara tegangan
keluaran dan kecepatan putaran masukan me-rupakan suatu konstanta K dan
direpresentasikan sebagai:
f ungsi alih = K
|
(3.11)
|
8. Perpindahan dan rotasi
Untuk sistem di
mana masukannya adalah rotasi atau putaran poros dan keluarannya adalah suatu
perpindahan, seperti halnya hasil dari perputaran sebuah sekrup, karena
kecepatan merupakan laju perpin-dahan, maka didapat relasi v : dy=dt sehingga V
(s) = sY (s) dan fungsi alih sistem adalah:
f ungsi alih =
|
1
|
(3.12)
|
|
s
|
|||
9. Ketinggian zat cair di dalam kontainer
Ketinggian zat
cair di dalam kontainer bergantung pada laju zat cair yang memasuki kontainer
dan laju zat cair yang keluar dari dalam kontainer, Relasi antara masukan
berupa laju zat cair yang masuk dan ketinggian zat cair di dalam kontainer akan
memiliki bentuk:
f ungsi alih =
|
1
|
(3.13)
|
sA + g=R
|
di mana A adalah luas penampang melintang
kontainer, adalah mas-sa jenis zat cair, g adalah percepatan gravitasi, dan R
adalah resistansi hidrolik pipa tempat zat cair keluar dari dalam kontainer.
Fungsi alih dan
sistem
Tinjaulah
sebuah sistem kontrol kecepatan yang terdiri dari sebuah penguat diferensial
untuk memperkuat sinyal dan menggerakkan sebuah motor, yang selanjutnya akan
menggerakkan sebuah poros melalui sistem gir. Umpan balik putaran poros
diperoleh melalui sebuah tachogenerator.
1. Penguat diferensial dapat
diasumsikan menghasilkan keluaran yang berbanding lurus dengan masukan sinyal
error sehingga dapat direp-resentasikan oleh sebuah fungsi alih konstan K,
yaitu gain K yang nilainya tidak berubah terhadap waktu.
2. Sinyal error merupakan
masukan untuk rangkaian jangkar motor dan mengakibatkan motor memberi torka
keluaran yang besarnya seban-ding dengan besar arus jangkar. Rangkaian jangkar
dapat diasumsikan sebagai rangkaian yang memiliki induktansi L dan resistansi R
sehing-ga fungsi alihnya adalah l/(sL + R).
3. Torka keluaran motor
ditransformasikan menjadi putaran poros peng-gerak oleh sebuah sistem gir, dan
dapat diasumsikan bahwa kecepatan putaran adalah berbanding lurus dengan torka
masukan. Jadi fungsi alih sistem gir direpresentasikan oleh suatu fungsi alih
konstan N, yang merupakan rasio gir.
4. Umpan balik diberikan
melalui elemen tachogenerator dan dapat di-ambil asumsi bahwa keluaran generator
berbanding langsung dengan masukannya sehingga dapat direpresentasikan sebagai
fungsi alih kon-stanta H.
Masukan
Berganda
Ketika terdapat
lebih dari satu buah masukan sistem, maka dapat digunakan prinsip superposisi.
prinsip ini menyatakan :
Respons
terhadap beberapa masukan yang secara simultan diterapkan adalah jumlah dari
respons-respons individual terhadap tiap masukan ketika diterapkan terpisah.
Jadi
prosedur untuk mengadopsi sistem MISO (Multiplr Input-Single Output) adalah :
1. Atur semua masukan kecuali satu sebagai sama
dengan nol.
2. Tentukan sinyal keluaran
sistem yang diakibatkan oleh masukan tidak nol ini.
3. Ulangi langkah di atas
untuk setiap masukan yang lain secara bergi-liran.
4. Keluaran total sistem
adalah jumlah aljabar dari keluaran-keluaran yang diakibatkan oleh setiap
masukan.
Sensitivitas
Sensitivitas
sistem adalah ukuran dari seberapa besar gain keseluruhan sis-tem dipengaruhi
oleh perubahan-perubahan yang terjadi pada gain dari ele-menelemen sistem atau
masukan-masukan tertentu. Dalam pokok bahasan berikut ini akan dilihat
efek-efek yang diakibatkan oleh perubahan gain ele-men dan juga efek dari gangguan.
Sensitivitas
terhadap gangguan
Salah satu efek
penting dari keberadaan loop umpan balik pada suatu sis-tem adalah berkurangnya
efek-efek yang diakibatkan oleh sinyal gangguan terhadap sistem. Sinyal
gangguan adalah sinyal-sinyal yang tidak diingink-an yang dapat mempengaruhi
sinyal keluaran sistem, contohnya derau pada rangkaian penguat elektronik atau
pintu yang dibuka pada suatu ruangan yang temperaturnya dikontrol oleh suatu
sistem pemanas terpusat.





0 komentar:
Posting Komentar